Jumat, 05 Mei 2017

Tour de Lamongan (1)

Hi readers,

Saat kita kuliah kita harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Tugasnya beraneka warna sesuai dengan petunjuk dosen dan karakteristik mata kuliah yang diambil. Kak Febri berbagi cerita tugasnya yang nyentrik dan menantang yaitu melakukan perjalanan ke kota yang belum pernah didatangi sebelumnya. Kebayang gak? Kita melakukan perjalanan ke tempat yang asing, tak kenal siapa-siapa hanya mengandalkan kenekatan dan modal luwes bersosialisasi di masyarakat.

Kak Febri memilih Lamongan menjadi destinasi kota yang akan dijelajahinya. Karena panjang nian ceritanya, kita akan bagi menjadi cerita bersambung. Perjalanan dilakukan pada Kamis, 14 April 2016. Yuk ah, langsung simak ceritanya.

***

Saya berangkat dari kontrakan waktu itu kurang lebih pukul 08:30 WIB,  sebelum naik angkot saya mampir di toko dahulu untuk membeli Antangin dan Madu untuk kebutuhan darurat saat perjalanan. Setelah itu saya ke pertigaan untuk mencari angkot, dan baru sebentar menunggu sudah ada angkot datang. Beberapa menit kemudian sampai di pelabuhan. Lalu saya beli tiket dan naik kapal sendirian, sesampai  di kapal dan duduk di salah satu tempat duduk kapal saya melihat seseorang yang wajahnya tidak asing bagi saya, yang pasti dia juga mahasiswa tetapi saya tidak kenal dia. Lalu saya bertanya kepada dia :

Saya : “mahasiswa UTM to mas”

Dia   : “iya mas, kayak e aku sering petok(ketemu) sampean mas”

Saya : “iya mas aku yo sering ketemu sampean, kayak e sering ketemu sampean
            saat di masjid”

dia   : “iya mas di masjid, aku juga sering lihat sampean di SEKBER, aku menwa
            mas, sampean sering di sekber tripel-c kan”

saya : “iya mas, mau kemana”

dia   : “mau pulang mas ke bojonegoro”

saya : “wah kita searah dong mas, saya mau ke Lamongan”

…, dan seterusnya.

          Inti dari percakapan itu saya minta tolong untuk di tunjukkan arah menuju Lamongan dan saya harus naik apa saja saat ke Lamongan. Percakapan itu sangatlah panjang. Dia adalah anak fakultas hukum semester 2. Awalnya saya ke Lamongan mau lewat Bungurasih tetapi kata dia kalau lewat bungurasih kejauhan dan kelamaan, lebih cepat lewat terminal Wilangon. Tetapi kalau lewat Wilangon saya juga tidak tahu harus lewat mana dan naik angkot yang mana saja. Dia menjelaskan saya harus naik angkot warna putih dari pelabuhan dan turun di pertigaan dekat SPBU naik lagi angkot warna hijau, nanti lak sampai di Wilangon. Aku minta dia bareng saja kan Bojonegoro dan Lamongan satu arah, tetapi dia tidak bisa karena dia harus beli buku dulu di jalan Semarang. Kalau saya harus mengikuti dia beli buku dulu nanti saya kelamaan. Dan saya mengambil keputusan akan lewat Wilangon. Kan jalan Semarang dan ke pertigaan itu satu jalur, saya bilang ke dia ”saya ikut kamu nanti kalau sudah sampai ke pertigaan saya turunkan dan tunjukkan mana angkot hijau itu”.

To be continued soon

Hikmahnya
1.   Kita harus mencari informasi terperinci tentang kota tujuan kita dan cara mencapainya, bertanya pada teman banyak faedahnya. “malu bertanya sesat dijalan”

2.   Siapkan plan B, rencana cadangan, selalu bersikap luwes dengan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar