Hi readers,
Saat kita kuliah kita harus mengerjakan tugas yang diberikan
oleh dosen. Tugasnya beraneka warna sesuai dengan petunjuk dosen dan karakteristik
mata kuliah yang diambil. Kak Febri berbagi cerita tugasnya yang nyentrik dan
menantang yaitu melakukan perjalanan ke kota yang belum pernah didatangi sebelumnya.
Kebayang gak? Kita melakukan perjalanan ke tempat yang asing, tak kenal
siapa-siapa hanya mengandalkan kenekatan dan modal luwes bersosialisasi di
masyarakat.
Kak Febri memilih Lamongan menjadi destinasi kota yang akan
dijelajahinya. Karena panjang nian ceritanya, kita akan bagi menjadi cerita
bersambung. Perjalanan dilakukan pada Kamis, 14 April 2016. Yuk ah, langsung
simak ceritanya.
Saya berangkat dari kontrakan waktu itu kurang lebih
pukul 08:30 WIB, sebelum naik angkot
saya mampir di toko dahulu untuk membeli Antangin dan Madu untuk kebutuhan
darurat saat perjalanan. Setelah itu saya ke pertigaan untuk mencari angkot,
dan baru sebentar menunggu sudah ada angkot datang. Beberapa menit kemudian sampai
di pelabuhan. Lalu saya beli tiket dan naik kapal sendirian, sesampai di kapal dan duduk di salah satu tempat duduk
kapal saya melihat seseorang yang wajahnya tidak asing bagi saya, yang pasti
dia juga mahasiswa tetapi saya tidak kenal dia. Lalu saya bertanya kepada dia :
Saya : “mahasiswa UTM to mas”
Dia : “iya
mas, kayak e aku sering petok(ketemu) sampean mas”
Saya : “iya mas aku yo sering ketemu sampean, kayak
e sering ketemu sampean
saat di masjid”
dia : “iya
mas di masjid, aku juga sering lihat sampean di SEKBER, aku menwa
mas, sampean sering di sekber tripel-c kan”
saya : “iya mas, mau kemana”
dia : “mau
pulang mas ke bojonegoro”
saya : “wah kita searah dong mas, saya mau ke Lamongan”
…, dan seterusnya.
Inti
dari percakapan itu saya minta tolong untuk di tunjukkan arah menuju Lamongan
dan saya harus naik apa saja saat ke Lamongan. Percakapan itu sangatlah panjang.
Dia adalah anak fakultas hukum semester 2. Awalnya saya ke Lamongan mau lewat
Bungurasih tetapi kata dia kalau lewat bungurasih kejauhan dan kelamaan, lebih
cepat lewat terminal Wilangon. Tetapi kalau lewat Wilangon saya juga tidak tahu
harus lewat mana dan naik angkot yang mana saja. Dia menjelaskan saya harus
naik angkot warna putih dari pelabuhan dan turun di pertigaan dekat SPBU naik
lagi angkot warna hijau, nanti lak sampai di Wilangon. Aku minta dia bareng
saja kan Bojonegoro dan Lamongan satu arah, tetapi dia tidak bisa karena dia
harus beli buku dulu di jalan Semarang. Kalau saya harus mengikuti dia beli
buku dulu nanti saya kelamaan. Dan saya mengambil keputusan akan lewat Wilangon.
Kan jalan Semarang dan ke pertigaan itu satu jalur, saya bilang ke dia ”saya ikut
kamu nanti kalau sudah sampai ke pertigaan saya turunkan dan tunjukkan mana
angkot hijau itu”.
To be continued soon
Hikmahnya
1.
Kita
harus mencari informasi terperinci tentang kota tujuan kita dan cara
mencapainya, bertanya pada teman banyak faedahnya. “malu bertanya sesat dijalan”
2.
Siapkan
plan B, rencana cadangan, selalu bersikap luwes dengan keadaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar