Selasa, 09 Mei 2017

membentuk kepribadian anak yang karimah


Membentuk Kepribadian Anak Yang Karimah

            Bila anak belajar dengan kritikan, ia belajar untuk mengutuk. Bila anak belajar dengan permusuhan, ia belajar untuk melawan. Bila anak belajar dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu. Bila anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah. Bila anak hidup dengan toleransi, ia belajar menjadi sabar. Bila anak hidup dengan penuh dukungan, ia belajar untuk percaya diri. Bila anak hidup dengan penuh pujian, ia belajar untuk menghargai. Bila anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjadi adil. Bila anak hidup dengan rasa aman, ia belajar untuk mempunyai keyakinan. Bila anak hidup dengan pengakuan, ia belajar untuk menyukai dirinya. Bila anak hidup dengan kejujuran, ia belajar kebenaran. Bila anak hidup dengan pemerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukan rasa kasih dan sayang di dunia.
                                                                                    (Terjemahan dari Dorothy Law Nolte)

            Sepenggal puisi diatas menggugah gairah saya untuk menuangkan gerutu hati yang saya goreskan melalui tulisan ini. Yaaak... Mengenai bagaimana tips mebentuk kepribadian anak, yang mungkin menjadi satu dari ratusan referensi yang Anda miliki. Sering kali orang tua tidak mengetahui hal-hal kecil yang biasa mereka lakukan yang itu bisa menjadi bahan rujukan bagi buah hati mereka, seperti sifat alami anak yang cenderung meniru apa yang ia lihat. Misal orang tua dalam kesehariannya sering melakukan kegiatan peribadatan seperti sholat dsb yang itu deketahui langsung oleh anak mereka, maka secara tidak langsung melalui pengindraan anak, hal itu akan dengan sendirinya ditirukannya. Namun terkadang entah karena tidak sadar atau tidak tahu, orang tua kerap lupa untuk tidak mengindahkan hal-hal seperti itu, malah sebagian ada yang menunjukkan tindakan-tindakan kurang etis dihadapan anak bahkan sering mengajarkan hal-hal sepele yang itu kurang mendidik bagi anak. Padahal hal itu sangat berpotensi besar menjadi kebiasaan dan sifat anak.
            Banyak orang tua yang dalam mendidik anak bisa dikatakan kurang tepat, baik diperkotaan maupun pedesaan. Kendati justru yang sering saya ketahui lingkup desalah masyarakat yang menjunjung tinggi apa itu tata krama, unggah-ungguh, sopan santun, mereka teramat memperhatikan etika dan estetika antara anak dengan orang tua, muda dengan tua sehingga terciptalah keindahan dalam berperilaku. Saya rasa mereka cukup berkompeten dalam hal pendidikan akhlak anak. Yaa... walau tidak semua juga siiih.  Sedangkan orang diperkotaan pada dasarnya mereka cukup mumpuni dalam hal materi, namun demikian mereka kurang dalam praktiknya didukung lingkungan sekitar yang kurang mendukung. Kita tahu bahwa masyarakat perkotaan itu cenderung bersikap moderni bahkan cenderung kebarat-baratan. Kesimpulannya mereka kurang memperhatikan kaidah-kaidah dalam bertingkah laku yang baik. 
            Seperti yang saya paparkan diatas, salah satu yang sering saya jumpai dalam keseharian saya adalah banyak orang tua yang memberikan pembelajaran-pembelajaran yang pada intinya berniatan baik namun menjadi kurang baik karena salah menerapkan. Misal saat anak hendak makan, lalu kita lihat mereka makan menggunakan tangan kirinya. Kebanyak dari akan mengucapkan perkataan : “Jangan makan dengan tangan jelek !” seakan memberikan doktrin bahwa apa yang dilakukan tangan kiri itu adalah hal jelek, padahal tangan kanan maupun kiri adalah ciptaan Allah dan apa yang diciptakan Allah itu pasti ada baiknya. Dalam arti janganlah kita lantas menjelekkan ciptaan-Nya, lalu apakah kita akan menjelekkan tangan kanan saat kita gunakan untuk cebok atau hal-hal kotor lainnya, apakah maqam tangan kiri hanya pada hal-hal kotor saja. Tentu tidak jawabnya, karena bagi anak yang kidal mereka menggunakan tangan kiri untuk menulis, bahkan makan dan bersalaman. Seharusnya kita cukup mengatakan; “Nak, makanlah dengan tangan kananmu, karena itu sunnah Rasul.” Itu saja cukup, tak perlu menjelekkan tangan kiri, hal itu juga bisa memberikan pengetahuan baru bahwa Rasululloh itu senang menggunakan tangan kanan dalam melakukan segala hal dan itu menjadi sunnah beliau. Contoh kasus lain ketika anak mendapat nilai yang kurang memuaskan, janganlah langsung kita menyalahkannya dengan ucapan; “Kamu bodoh, goblok, tidak mau belajar, dsb”. Jangan, sekali lagi jangan. Itu bisa membuat mental anak menjadi down dan dalam sebuah penelitian itu bisa merusak sel saraf otak anak. Hal itu juga dapat membuat watak anak jadi suka membentak, suka menyalahkan, dan kurang menghargai jerih payah orang lain. Cukuplah katakan pada anak; “Nilai kamu memang belum memuaskan nak, tapi gak papa kamu sudah belajar dan berusaha. Dengan itu kamu harus mendapat nilai yang lebih baik kedepannya”. Perkataan itu bisa menjadi sugesti bagi anak sekaligus memunculkan anggapan bahwa orang tuanya sayang kepadanya.
1000 hari pertama sejak kelahiran anak sesungguhnya adalah masa-masa keemasannya, disini anak mulai melihat apa yang ada dihadapannya, mendengar apa yang terlintas dalam telinganya, lalu merefleksikan melalui tindakannya. Anak akan meniru tindakan-tindakan orang sekitarnya walaupun itu salah dan akan terus terulang hingga ada tindakan baru yang membenarkannya. Maka tak jarang kita melihat anak suka berkata kotor, kasar, dan bertingkah cenderung arogan yang itu merupak cerminan dari kesehariannya masa kecil. Sebagaimana kutipan puisi diawal tadi, tentang proses belajar anak dan kepribadian yang terbentuk. Perlu kita ketahui kepribadian buakanlah bawaan lahir, melainkan suatu sikap yang terbentuk melalui lingkup sekitar anak dan dapat diketahui setelah anak menginjak usia remaja yang tergambar melalui sikapnya sehari-hari. Personality yang dipelajari dalam ilmu kriminologi yaitu potensi yang dikembangkan melalui pengaruh lingkungan. Berbeda dengan genotype yang didapat melalui warisan orang tuanya, yang akrab kita sebut sebagai watak. Beda lagi dengan phenotype  yaitu sifat bawaan anak sejak lahir yang diperoleh dari Allah SWT bukan dari orang tuanya. Personality, yaitu pembentukan pola pikir dan tingkah laku anak yang diperoleh dari lingkungan sekitar anak sehingga menghasilkan suatu kepribadian atau watak.
Dari pemaparan diatas dapat kita katahui beberapa gambaran mengenai cara membentuk kepribadian anak yang didambakan, tentunya sebagai orang tua Anda ingin memiliki anak yang akhlaqnya karimah dan bertutur kata indah bukan. Oleh sebeb itu, marilah mulai saat ini kita ciptakan lingkungan yang mendidik bagi anak, ajari dan berilah uswah yang baik kepada mereka. Bukan hanya anak-anak, remaja, dewasa pun cenderung bersikap meniru apa yang mereka anggap baik dan bermanfaat bagi kehidupan mereka.
Jika ada yang mengatakan manusia mencari jati diri, itu tidaklah salah jika dalam perspektifnya adalah meng-itba’ para Ulama atau ahli ilmu lainnya. Namun juga tidaklah sebatas itu, karena Nabi Ibrahim As. pernah memberi pelajaran kepada kita selaku anak cucunya dengan kisah penemuan jati dirinya dalam mencari siapa Tuhannya.

Seseorang tidak akan mungkin mengambil hak orang lain bila dalam dirinya memiliki iktikad baik. Maka tugas kita adalah  memebentuk iktikad baik tersebut.


                                                       #Sholikhin Mubarok#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar