Oleh. Sholikhin Mubarok
Saat ku tatap langit, wajahnya muram
Nampak sedih bertabur gelisah
Ku tunggu dan setia ku menanti
Masih stagnan pada posisiku menatap
Semakin lama semakin larut
Sampai akhirnya...
Ku lihat kau gugurkan airmatamu
Satu per satu hingga beribu
Ku tengadahkan telapak tanganku
Lalu, kubiarkan penuh dengan airmatamu
Oh langit...
Kau mengajariku
Tersadar aku akan tangismu
Hujan adalah airmatamu
Menangis adalah anugrah
Tak beda dengan menangis, anugrah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar