Membentuk Kepribadian Anak Yang Karimah
Bila anak belajar dengan kritikan, ia belajar untuk mengutuk. Bila anak belajar dengan permusuhan, ia belajar untuk melawan. Bila anak belajar dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu. Bila anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah. Bila anak hidup dengan toleransi, ia belajar menjadi sabar. Bila anak hidup dengan penuh dukungan, ia belajar untuk percaya diri. Bila anak hidup dengan penuh pujian, ia belajar untuk menghargai. Bila anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjadi adil. Bila anak hidup dengan rasa aman, ia belajar untuk mempunyai keyakinan. Bila anak hidup dengan pengakuan, ia belajar untuk menyukai dirinya. Bila anak hidup dengan kejujuran, ia belajar kebenaran. Bila anak hidup dengan pemerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukan rasa kasih dan sayang di dunia.
(Terjemahan dari Dorothy Law Nolte)
Sepenggal puisi diatas menggugah gairah saya untuk menuangkan gerutu hati yang saya goreskan melalui tulisan ini. Yaaak... Mengenai bagaimana tips mebentuk kepribadian anak, yang mungkin menjadi satu dari ratusan referensi yang Anda miliki. Sering kali orang tua tidak mengetahui hal-hal kecil yang biasa mereka lakukan yang itu bisa menjadi bahan rujukan bagi buah hati mereka, seperti sifat alami anak yang cenderung meniru apa yang ia lihat. Misal orang tua dalam kesehariannya sering melakukan kegiatan peribadatan seperti sholat dsb yang itu deketahui langsung oleh anak mereka, maka secara tidak langsung melalui pengindraan anak, hal itu akan dengan sendirinya ditirukannya. Namun terkadang entah karena tidak sadar atau tidak tahu, orang tua kerap lupa untuk tidak mengindahkan hal-hal seperti itu, malah sebagian ada yang menunjukkan tindakan-tindakan kurang etis dihadapan anak bahkan sering mengajarkan hal-hal sepele yang itu kurang mendidik bagi anak. Padahal hal itu sangat berpotensi besar menjadi kebiasaan dan sifat anak.